ketika kopi bertemu cangkirnya.

menangis dipangkuan ibu

Posted on: November 1, 2010

saya selalu berfikir bahwa sahabat untuk selamanya. dia yang setia berada di belakang saya saat dibutuhkan, selalu di depan saya untuk menuntun jalan, dan selalu ada disamping saya agar saya tidak sendirian. itulah sahabat bagi saya. saya bukan orang yang dapat mempunyai banyak teman (bukan tidak pandai bersosialisasi), tapi yang saya yakini adalah mereka yang sampai saat ini bersama saya adalah sahabat-sahabat terbaik saya. buat apa frenemies kalau kita punya sahabat yang tidak bermuka dua ?

minggu ini adalah minggu berat bagi saya. bertahan di jurusan saya yang notabene bukan dunia saya, dengan teman-teman yang kebanyakan menurut saya hanya teman-disaat-butuh-saja (maaf), jujur saja membuat hidup saya kurang bahagia. semua fenomena itu menyebabkan saya yang lebih suka terdiam dan pergi saat marah berubah menjadi kasar. dari perkataan maupun tingkah laku. saya sudah cukup muak kalian anggap remeh dan dipermainkan seenak udel .

hari ini, setelah menangis sendiri saya bercerita kepada ibu saya. saya ditinggalkan teman terbaik saya, saya tidak punya teman, sahabat lama saya lah yang membantu saya bertahan selama ini. ibu saya yang setia mendengarkan tiap kata dari keluh kesah saya berkata manusia memiliki gaya masing-masing saat sudah menemukan seseorang yang bisa diandalkan, ada yang mengeksklusifkan diri ada juga yang tetap berlaku seperti biasa. namun semua terserah pada pribadi masing-masing. prilaku manusia juga tidak tau terima kasih. sebaik apapun orang sampai orang yang ditolongnya rela bersujud untuk berterima kasih, tidak usah menunggu hari untuknya melupakan kebaikan orang yang menolongnya. berlakulah baik sewajarnya, dan bencilah orang sewajarnya. terkadang orang yang kamu anggap baiknya setengah mati suatu saat juga akan menyakitimu juga, sama seperti orang yang kamu benci mungkin akan menolongmu suatu hari nanti.

kata-kata itu menghancurkan hati saya. saya masih mau percaya bahwa orang itu, sahabat-sahabat saya, akan selamanya menemani saya di belakang, depan atau disamping saya. sahabat-sahabat saya tidak akan bosan menerima keluh kesah saya, sahabat-sahabat saya akan bersedia membantu saya sebisa mereka, sahabat-sahabat saya akan sayang kepada saya sebesar sayang saya pada mereka sekarang. hari ini saya menangis dipangkuan ibu saya, menolak semua perkataannya yang saya sendiri akui kebenarannya. ibu mengelus-elus kepala saya dan berkata “semua itu bisa dilewati kalau kita bisa ikhlas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Just a Picture.

chya wa here !

Cantya Paramita

Mahasiswa arsitektur biasa yang berharap luar biasa dan bertingkah tidak biasa.

What’s happening?

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


  • None
  • nolly: Pertamaxxx !! Aku suka kata2 ini, merancang itu menyenangkan, hingga seseorang menirumu :)
  • some1uknow: love is fated. ^_^
  • nollyartha: Pertamaxxx !! Hahaha. Lagi gethol2nya nyari cowok neh.. :p Semangat chomaricho!
%d bloggers like this: